Seminar Nasional Kearsipan : Strategi Manajemen Record Dalam Penyusunan Arsip

Oct 05, 2018

Kampus ITS, ITS News – Pada istilah kearsipan, manajemen organisasi atau catatan (record) berperan sangat penting untuk penyusunan arsip yang baik. Untuk menciptakan memori organisasi, diperlukan adanya manajemen record yang baik. Hani Qonitah S IP M IMS , Information Management Servises (IMS) Supervisor Exxon Mobil Corporation memberikan informasi mengenai praktek praktek manajemen record untuk menciptakan memori organisasi dihadapan peserta Seminar Nasional Kearsipan ITS 2018, Kamis (4/10) lalu.

Hani Qonitah S IP M IMS mengatakan, alasan pembuatan manajemen record yang baik ialah untuk membentuk administrasi organisasi yang baik, menghemat biaya, bentuk kedisiplinan suatu organisasi, serta wujud kepatuhan terhadap hukum. Cara menerapkan manajemen record untuk menghasilkan memori organisasi meliputi beberapa aspek yaitu kebijakan, pedoman, prosedur manajemen record, serta sistem manajemen record elektronik.

Terkait kebijakan manajemen record, hal-hal yang harus dipenuhi antara lain kebijakan harus bersifat dari atas ke bawah. Keputusan berasal dari pimpinan, setara dengan kebijakan perusahaan lainnya, serta laporan dari pimpinan secara patuh dan berkala.

Berbeda dengan kebijakan, pedoman record lebih menitikberatkan pada tanggung jawab dan peran yang harus dijalankan. Dalam pedoman record, perlu adanya persepsi yang sama mengenai record itu sendiri. “Selain itu, mengingat Indonesia rawan terhadap bencana alam, maka unit kerja manajemen record juga perlu menyiapkan program kerja mengenai identifikasi dan perlindungan arsip termasuk program recovery record apabila bencana terjadi,” imbuh wanita yang meraih gelar masternya di Monash University Australia.

Sementara itu, berbicara mengenai prosedur manajemen record, Hani mengatakan organisasi harus memiliki petunjuk pelaksanaan manajemen record yang jelas antara unit kerja manajemen record dengan pengguna. Sementara untuk sistem manajemen record elektronik, unit kerja manajemen record harus memiliki aplikasi untuk mengotomasi proses manajemen record dan pembagian sistem yang memenuhi persyaratan fungsi dan teknis. “Sistem manajemen record elektronik harus mencakup seluruh proses mulai dari masa penciptaan, perolehan, penggunaan, penyebaran, penilaian, penyimpanan hingga pemusnahannya,” jelas wanita berkaca mata itu.

Di akhir, ia menegaskan bahwa tenaga kearsipan harus mampu bergerak aktif dalam mengakuisisi atau menarik arsip dari berbagai unit kerja dalam suatu organisasi. Hal ini dikarenakan biasanya data yang masuk ke unit kearsipan justru data yang tidak penting sehingga akan menjadi sampah arsip. “Jadi, ketika masing-masing unit kerja dimintai pertanggungjawaban secara hukum, ada arsip yang jelas mengenai hal tersebut,” pungkasnya.(jun/jel) Sumber : ITSonline